SERUAN* NASIONAL
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
*MEMBENTURKAN IMAN,*
*MENGUNDANG BENCANA*
________________________________________
Saudara-saudara,
Hari ini kita tidak sedang menghadapi sekadar kebisingan informasi.
Kita sedang berdiri di tepi sesuatu yang jauh lebih berbahaya:
rekayasa realitas yang menyentuh iman.
Di zaman ini, fakta tidak lagi utuh.
Ia dipotong, dibingkai, lalu disebarkan dengan kecepatan yang melampaui akal sehat.
Platform digital tidak bertanya apakah sesuatu itu benar.
Mereka hanya bertanya: apakah ini memancing reaksi?
Dan kita tahu jawabannya:
amarah selalu lebih cepat daripada kebenaran.
Satu pernyataan bisa diubah maknanya.
Satu kalimat bisa dijadikan senjata.
Apa yang menimpa Jusuf Kalla bukan sekadar kesalahpahaman.
Ia adalah peringatan:
bahwa siapa pun bisa dijadikan alat untuk membenturkan umat.
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Agama bukan sekadar identitas.
Ia hidup di dalam keyakinan terdalam manusia.
Ketika ia disentuh dengan cara yang salah,
yang muncul bukan diskusi—
melainkan reaksi.
Dan reaksi itu tidak berhenti di satu tempat.
Banyak orang lupa: agama tidak berhenti pada batas geografis.
Ia hidup dalam jejaring makna dan solidaritas yang menjalar melampaui negara.
Karena itu, ketika satu peristiwa dibingkai sebagai konflik antar-umat,
resonansinya tidak lokal—
melainkan bisa mengguncang kesadaran di berbagai belahan dunia.
Sejarah telah berulang kali memperingatkan kita—
dari Perang Salib, Perang Bosnia, hingga konflik modern seperti Konflik Israel–Palestina—
bahwa ketika agama dibenturkan,
getarannya tidak berhenti di satu wilayah,
melainkan menjalar ke seluruh dunia.
*Kita tidak perlu belajar dari jauh.*
*Ambon dan Poso sudah cukup menjadi cermin.*
*Ketika agama dibenturkan,*
*yang tersisa bukan kemenangan—*
*melainkan luka yang panjang.*
Yang terhubung bukan tubuh manusia,
melainkan keyakinan yang mereka pegang.
Dan ketika keyakinan itu terusik,
dunia yang jauh pun bisa terasa dekat—
bukan untuk memahami,
tapi untuk ikut bereaksi.
Bangsa ini bukan bangsa yang lahir dari konflik antar-agama.
Kita dibangun oleh kesadaran untuk hidup bersama di tengah perbedaan.
Dari Pangeran Diponegoro hingga ajaran Mpu Tantular,
kita diajarkan satu hal:
perbedaan adalah fakta,
tapi benturan adalah pilihan.
Hari ini, ada yang mencoba mengubah pilihan itu.
Dengan memelintir fakta.
Dengan merekayasa narasi.
Dengan memainkan emosi.
Dan jika kita lengah,
kita bukan hanya akan kehilangan kebenaran—
kita akan kehilangan arah sebagai bangsa.
Karena itu saya katakan dengan tegas:
Membenturkan antar-umat beragama bukan sekadar pelanggaran.
Ia adalah ancaman terhadap kehidupan bersama—
yang membuka peluang terguncangnya hak asasi
dan runtuhnya martabat manusia.
Ia harus dihentikan.
Dengan kesadaran.
Dengan kewaspadaan.
Dan—bila diperlukan—dengan penegakan hukum
yang tegas dan berkeadilan.
Sebab ketika iman dijadikan alat benturan,
yang hancur bukan hanya fakta—
tapi masa depan kita bersama.
Terima kasih.
Salam kompak selalu!
*#JagaIndonesia*
Jakarta, 25 April 2026
TTD
*ADHIE M MASSARDI*
Ketua Komite Eksekutif KAMI
Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

