Perjuangan Nabi Muhammad SAW (24)

March 13, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (24)

Abdullah Hehamahua

 Tokoh-tokoh Quraisy, sangat  marah terhadap umat Islam, pasca kekalahan mereka di perang Badr. Mereka pun menyiapkan pasukan yang lebih besar guna menyerang umat Islam, di Uhud, 10 km dari Madinah.

Perang Uhud terjadi pada 7 Syawal tahun 3 Hijriyah di bukit Uhud, 10 km dari Madinah. Pasukan Muslim dipimpin langsung Rasulullah SAW sebanyak 700 orang setelah 300 warga Yahudi dan munafik, pimpinan Abdullah bin Ubay, keluar dari baris-an Islam.

Pasukan Quraisy terdiri dari 3000 orang, dipimpin langsung oleh Abu Sofyan. Mereka memiliki 200 orang pasukan berkuda dan me-ngenakan pakaian besi.

Perang Uhud dan Ketidak-disiplin-an Pemanah

Rasulullah SAW, sebelum pe-rang mulai berkecamuk, memerin-

tahkan pasukan panah untuk tidak boleh meninggalkan bukit Uhud, apa pun yang terjadi. Sebab, bukit ini sangat strategis dalam melindungi kedudukan pasukan Islam.

Babak pertama peperangan umat Islam unggul. Pasukan Quraisy lari kucar kacir dan meninggalkan hartanya. Tentara Islam lalu meng-umpulkan ghanimah tersebut. Pasu-kan pemanah pun meninggalkan bu-kit Uhud untuk mengumpulkan gha-nimah.

Khalid bin Walid sebagai  ahli perang melihat peluang besar untuk mengepung pasukan Islam. Beliau  dengan pasukannya menyerang dari arah belakang bukit Uhud yang di-tinggalkan pasukan pemanah. Dam-pak negatifnya luar biasa. Pasukan Islam kucar kacir. Tercatat, 70 saha-bat yang terbunuh, termasuk paman Rasulullah SAW sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri mengalami luka.

Mush’ab bin Umair, Pembawa Bendera Perang Uhud

Mush’ab bin Umair mencapai puncak kejayaanya ketika ditunjuk Rasulullah SAW menjadi pembawa bendera Islam dalam perang Uhud. Tragisnya, disebabkan ketidak-disip-linan pemanah yang berada di atas bukit Uhud, pasukan Quraisy meng-obrak abrik tentara Islam. Konsek-wensinya, Mush’ab sangat khawatir atas keselamatan Nabi Muhammad SAW. Konsekwensi logis lanjutan-nya, Mush’ab menggunakan taktik pengalihan perhatian musuh dengan menyerang lawan di semua penjuru. Dampak positifnya, musuh hanya menumpukan perhatian terhadapnya dan melupakan Rasulullah SAW. Dampaknya, semakin banyak tentera Quraisy yang mengepung Mush’ab sehingga terjadilah kisah sebagai-mana dinukilkan para sahabat seperti berikut ini:

”Datanglah seorang musuh ber-kuda, Ibnu Qumaiah, lalu menebas tangan Mush’ab sampai putus. Mush’ab spontan menghibur hatinya dengan ucapan : “Muhammad itu tia-da lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh be-berapa Rasul”.

Mush’ab lalu memegang ben-dera dengan pangkal tangan yang sudah putus sambil terus menyerang musuh. Musuh berhasil menebas tangannya yang satu lagi. Mush’ab terpaksa memegang bendera dengan kedua pangkal tangannya sambil tetap berseru, ”Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, dan se-belumnya telah didahului oleh be-berapa Rasul.”  Orang berkuda itu la-lu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga -tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.”

Masyaa Allaah !!!  Kalimat yang selalu diucapkan Mush’ab setiap ta-ngannya putus, ternyata diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Sebab, ketika Rasulullah SAW dan para sahabat memeriksa mayat para syuhada, dan tiba dekat jenazah Mush’ab, beliau membacakan ayat Al-Qur’an berikut:

Di antara orang-orang Mu’min ter-dapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.” (QS Al Ahzab: 23).

 

Nusaibah binti Ka’ab, ”Perisai Rasulullah”

Nusaibah binti Ka’ab adalah satu dari dua perempuan Yatrib yang datang ke Makah untuk masuk Islam. Beliau dengan suami bersama 68 penduduk Yatrib lainnya, berjanji se-tia ke Rasulullah SAW dalam Bai’ah Aqabah kedua.

Nusaibah berangkat ke Perang Uhud bersama suami dan anak-anaknya untuk memberi minum pra-jurit dan merawat yang terluka. Na-mun, sewaktu pasukan Muslim kocar-kacir, Nusaibah melihat Nabi Muham-mad dalam bahaya. Beliau pun se-gera mengambil pedang dan busur panah, lalu maju ke depan untuk melindungi Rasulullah SAW dari serangan musuh.

Nusaibah bertarung dengan gigih, termasuk menjadikan tubuhnya sebagai perisai yang melindungi Ra-sulullah SAW dari terkapan panah, tombak, atau pedang musuh. Kon-sekwensinya, Nusaibah menderita 12 luka, termasuk luka dalam di leher.

Rasulullah SAW melihat kebe-raniannya, bersabda: “Wahai Abdul-lah (putra Nusaibah), balutlah luka ibumu ! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga”..

        Nusaibah karena kebenariannya tersebut maka dijuluki “Singa Betina Uhud” dan “Perisai Rasulullah.” .-Beliau terus istiqamah membela Is-lam dan Rasulullah hingga akhir hayatnya.

Rasulullah SAW, setelah mela-yangkan pandangan sayu ke arah area peperangan dan jenazah para syuhada, berseru : “Sungguh, Rasul-ullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.”  Bagin-da sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, bersabda : “Hai manusia! Berziarahlah dan berkunj-unglah kepada mereka, serta ucap-kanlah salam! Demi Allah yang me-nguasai nyawaku, tak seorang Mus-lim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.”

Simpulan

  1. Taat asas sebagai prasayarat disiplin dalam segala urusan, apa-lagi perjuangan yang berupa pe-rang pisik (qital), menjadi syarat mutlak. Sebab, ketidak-displinan, tidak hanya merugikan keuangan/ perekonomian negara, tapi juga  mengorbankan banyak nyawa ma-nusia. Bahkan, eksistensi negara, dapat punah.
  2. Godaan dunia berupa harta benda, khususnya ghanimah dalam suatu peperangan seperti apa yang terjadi di Uhud, merupakan suatu kelemahan besar bagi seorang pejuang Islam.
  3. Menaati pemimpin, tidak hanya berupa taat asas, disiplin, dan menomorduakan harta (Ghani-mah), tapi juga siap mengor-bankan nyawa sendiri bagi kese-lamatan Rasulullah SAW seperti ditunjukkan Mush’ab dalam perang Uhud. (Depok, 24 Ramadhan 1447H/14 Maret 2026M)

 

Pembangunan Papua Harus Adil

PEMBANGUNAN PAPUA Harus ADIL Wanam, Merauke, dan Grand Strategy Kedaulatan Nasional Swasembada Pangan, Energi, Keuangan,