Selamat Jalan Ananda Abdurrahman Auf,Insyaallah Ayahanda Bersama Keluarga Kelak Menyusulmu Di Surga

February 28, 2026

SELAMAT JALAN ANANDA ABDURRAHMAN AUF, INSYAALLAH AYAHANDA BERSAMA KELUARGA KELAK MENYUSULMU DI SURGA

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Kemarin penulis mendapatkan kabar tentang meninggalnya Ananda Abdurrahman Auf (14 tahun), putra dari Ustadz Joko Prasetyo (Wartawan Tabloid Media Umat).

Sebelumnya, penulis sempat membaca sejumlah artikel dari sang Ayah, yang mengabarkan tentang sakit yang diderita sang anak. Dan akhirnya, kabar ini seolah menjadi cerita akhir dari keteguhan, kesabaran dan kasih sayang orang tua yang merawat anaknya dengan penuh kasih.

Tapi takdir berkehendak lain,

Ternyata Allah SWT yang maha kasih, lebih mengasihi ananda dan menempatkan dalam kebaikan menurut takdir Allah. Dan insyaAllah, akan dikumpulkan kembali dengan kedua orang tuanya di Surga, Amien.

Ustadz Joko Prasetyo sendiri, penulis kenal sebagai pejuang Islam. Seorang aktivis dakwah yang melalui goresan penanya konsisten memperjuangkan syariah Islam & Khilafah.

Kami punya sejumlah kenangan manis. Terutama saat mengadvokasi HTI pada sidang PTUN terkait pencabutan BHP-nya oleh rezim laknat Jokowi.

Saat itu, menjelang atau pasca sidang kami biasa saling membuat ulasan sidang. Dari fakta persidangan hingga berbagai pernak pernik yang meliputinya.

Seorang anak yang telah dipanggil Allah tentu mengharapkan kedua orang tuanya beramal salih, sehingga menjadi jaminan bagi keduanya untuk menyusul ke surga.

Dalam konteks kepedihan batin, penulis dapat merasakan betapa pedih dan getirnya ditinggal anak.

Beberapa waktu lalu, seorang rekan sejawat Advokat mengabarkan kepedihan hatinya, karena salah satu cucunya meninggal dunia, dan cucu yang lain mendapat perawatan. Untuk sekedar berbagi rasa, penulis sampaikan kepada beliau :

“Sabar Bang. Aku pun telah merasakan dua kepedihan sekaligus, kepedihan ditinggal ayah dan kepedihan ditinggal anak. Ayahku meninggal saat aku usia kelas 5 SD, dan salah satu anakku meninggal saat usia 18 hari’

Saat meninggalnya putriku, Mahia Mumtazah Shalihah, untuk menggambarkan betapa perihnya kesedihan ditinggal kematian anak, penulis sempat membuat syair :

“Aku telah menyiapkan pena, ratusan hingga ribuan lembar kertas untuk menulis banyak puisi tentangmu. Namun ternyata, baru sampai halaman muka, engkau telah dipanggil yang maha kuasa”

Hari ini, penulis paham betul apa yang sedang dirasakan ustadz Joko Prasetyo. Apa itu kepedihan, kesedihan, dan kehilangan.

Tapi kita harus cepat bangkit, untuk memastikan kita dapat berkumpul di surga bersama anak-anak kita. Yakni, dengan lebih optimal berjuang untuk menegakkan syariat Allah SWT dalam naungan daulah Khilafah.

Lihatlah ! Bukan hanya kaum muslimin di negeri ini. Saudara muslim kita di Palestina, Morro, Xinjiang, Yaman, Afghanistan, Kashmir, dan di berbagai belahan dunia lainnya, membutuhkan kaum muslimin bersatu dibawah panji panji Islam, untuk menolong saudara sesama muslim.

Sudah saatnya kita tanggalkan selimut. Segera bergegas berdakwah, tanpa ada yang perlu ditutupi, tanpa harus menunda kemenangan berdalih strategi untuk mencari keamanan. Cukuplah Allah SWT sebagai pelindung, dan cukupkan fikroh thariqah dakwah yang terbuka, menantang setiap inchi kezaliman, melakukan Darbul Alaqot, membongkar makar jahat penguasa zalim, sebagai jaminan keridloan dan keselamatan.

Berapa usia kita? Mau menunggu apa lagi? Kapan berjuang habis habisan? Tidak kah pilu, membiarkan umat begitu lama menjadi yatim tanpa ada yang mengasuh?

Kematian dalam medan dakwah jauh lebih baik ketimbang hidup dalam keraguan dan rasa takut akibat praduga akan adanya kemudharatan.

Pesan ini, tentu saja bukan hanya untuk Ustadz Joko Prasetyo. Melainkan untuk seluruh pejuang Islam, yang telah bersumpah akan selalu menjadi ‘Harrisan Aminan Lil Islam’, menjadi penjaga Islam yang terpercaya. Penjaga Islam, yang lebih memilih keamanan bagi Islam ketimbang bagi dirinya sendiri. Yang lebih memilih pasang badan untuk Islam, ketimbang buang badan untuk mencari keselamatan diri sendiri.

Sebagai ungkapan penutup, penulis ucapkan :

“Selamat jalan nak Auf, di bulan suci Ramadhan Allah SWT memanggilmu. Kelak, kedua orang tuamu akan menyusulmu, di Surga Allah SWT yang indah”

Semoga, kedua orang tuamu teguh dalam mengemban dakwah Islam. Menjadi penjaga Islam yang terpercaya, yang berjuang mengorbankan diri dan harta untuk tegaknya izzul Islam wal muslimin.

Dakwah kedua orang tuamu, yang akan menjadi jaminan berkumpunya di Surga. InsyaAllah. Amien. [].

Sains Tidak Berpikir (2)

SAINS TIDAK BERPIKIR (2) Irawan Santoso Shiddiq, SH Martin Heidegger (1889-1976), menerbitkan artikel “Science does