Dari DP4 ke DPT: Di Mana Demokrasi Kita Mulai Menyimpang

February 17, 2026

Dari DP4 ke DPT: Di Mana Demokrasi Kita Mulai Menyimpang

Catatan Agus M Maksum, Mantan Ketua Tim IT Prabowo Sandi 2019

Saya ingin mengajak kita semua mundur sedikit.
Bukan ke hari pencoblosan.
Bukan ke debat capres.
Tapi ke satu ruang yang jarang dibicarakan orang, padahal di sanalah nasib suara rakyat ditentukan.

Ruang itu bernama data pemilih.

Kita Selalu Ribut di Hilir

Setiap pemilu, polanya hampir selalu sama.

Hari H berjalan.
Penghitungan suara selesai.
Lalu muncul ribut-ribut:

“DPT bermasalah”

“Ada pemilih ganda”

“Orang sudah meninggal masih tercatat”

“Banyak warga tidak bisa memilih”

Pertanyaannya:
Kenapa ini selalu terjadi?

Karena kita terlalu sibuk di hilir,
padahal masalahnya ada di hulu.

DP4 Itu Apa, DPT Itu Apa?

Saya jelaskan pelan-pelan.

DP4 adalah data penduduk potensial pemilih pemilu.
Ini data dari negara. Dari catatan kependudukan. Dari NIK. Dari data resmi.

DPT adalah daftar pemilih tetap.
Ini data yang dipakai saat pemilu berlangsung.

Idealnya sederhana:

> DP4 diolah → diverifikasi → jadi DPT.

 

Masalahnya, di situlah penyimpangan mulai terjadi.

Kesalahan Besar yang Dianggap Biasa

Dalam praktik selama ini,
penyusunan DPT tidak murni dimulai dari DP4.

Masih ada satu “jalan pintas”: 👉 DPT pemilu sebelumnya ikut dipakai sebagai sumber data.

Sekilas terlihat praktis.
Tapi dampaknya sangat berbahaya.

Kenapa?

Karena:

Kesalahan lama tidak dibersihkan

Data ganda ikut diwariskan

Data fiktif menetap

Kesalahan administratif berubah jadi kesalahan struktural

Ibaratnya begini:

> Kita ingin membersihkan air,
tapi justru menuangkan air lama ke wadah baru.

 

Kenapa Ini Tidak Sehat untuk Demokrasi

DPT lama itu bukan data induk.
Ia hanyalah produk satu peristiwa pemilu.

Kalau dipakai lagi dan lagi:

Pemilu tidak pernah benar-benar dimulai dari nol

Audit data menjadi sulit

Sengketa selalu berulang

Publik kehilangan kepercayaan

Lalu kita heran,
kenapa setiap pemilu selalu ada kecurigaan.

Solusinya Sebenarnya Sangat Sederhana

Bukan teknologi mahal.
Bukan sistem canggih.

Cukup satu prinsip tegas:

> Sumber DPT hanya DP4.

 

Titik.

Artinya:

DPT lama tidak boleh jadi sumber data

Setiap pemilu dimulai dari data kependudukan terbaru

Kesalahan tidak diwariskan

Koreksi dilakukan sejak awal, bukan setelah gaduh

Ini bukan soal siapa untung siapa rugi.
Ini soal ketertiban sistem.

Kalau Ada yang Bertanya: “Kenapa Harus Repot?”

Justru karena ini menyangkut hak paling dasar warga negara.

Kalau data pemilih kacau:

Hak pilih bisa hilang

Suara bisa disalahgunakan

Hasil pemilu selalu dipertanyakan

Demokrasi bukan hanya soal mencoblos.
Demokrasi dimulai dari apakah nama kita dicatat dengan benar.

Penutup

Saya ingin menutup dengan kalimat sederhana:

> Pemilu yang adil tidak dimulai dari bilik suara.
Ia dimulai dari data yang bersih.

 

Kalau kita ingin pemilu yang tenang,
maka beranilah merapikan dari hulu.

Bukan dengan teriak,
tapi dengan aturan yang tegas dan jujur.

Dan di situlah pertanyaan besarnya: di mana demokrasi kita mulai menyimpang—dan kapan kita berani meluruskannya?