January 6, 2026

Melacak Jejak “The Bomber of Masyumi”

‘Berbahagialah suatu masyarakat yang mempunyai pemimpin yang mahir berpidato dan mahir menulis. Lebih berbahagia lagi orang itu sendiri, yang berkumpul dalam dirinya kecakapan lisan dan kemahiran tulisan. Lidah yang mahir serta pena yang lancar serta tangkas dapat dipergunakan untuk berbakti pada agama dan bangsanya, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, menyebarkan kebenaran.” (KH. M. Isa Anshari, dalam buku Mujahid Dakwah, 1979)

Melacak rumah agitator Masyumi dan pengkader bangsa, KH. Isa Anshari (1916-1969) di Tanjung Sani, Sungai Batang-Maninjau, Sumatera Barat.

Banyak julukan diberikan kepada pejuang dakwah Ketua Umum PP. PERSIS, Ketua Front Anti Komunis (FAK) dan Pemimpin Umum Gerakan Anti Fasis (Geraf) ini dari “Singa Podium”, “Napoleon Masyumi” dan “The Bomber of Masyumi”.

Selain sebagai mubaligh, KH. Isa Anshari juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Setidaknya ada 57 buku yang beliau hasilkan. Lelaki yang hobi pakai sarung dan jas ini termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis (1953) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis (1967).

Kunjungan ini saya lakukan bersama sahabat saya Ustadz Awaluddin (Direktur AQABAH Bukittinggi) saat Maninjau sedang mengalami banjir longsor. Hujan deras tak “menyurutkan” menggali ratna mutu manikam. Tekad saya sejak kecil untuk mencari jejak perjuangan KH. Isa Anshari sudah tumbuh saat kelas 5 SD. Kakek sering menceritakan sosok heroisme dan Patriotisme KH. Isa Anshari sejak saya kelas 2 SD. Alhamdulillah akhirnya dapat terwujud.

Kyai Jazir dan Inspirasi Jogokariyan
Sebelum berpulang ke hadirat Ilahi pada 2 Syawal 1389 atau 11 Desember 1969, Kiai Isa Anshari sempat menyelesaikan dua naskah. Naskah yang pertama berjudul “Falsafah Moral dan Pelita Indonesia”; naskah yang kedua berjudul “Kembali ke Haramain”. Di naskah kedua ini, KH. Jazir ASP mendapatkan hujah dan ilham yang sangat kuat untuk ‘bercokol’ di masjid selama-lamanya dalam memperbaiki bangsa dan negara. Negara ideal yang sedianya dibangun Muslimin adalah merujuk pada kekuasaan Rasulullah Muhammad di Madinah. Dan sentral dari kekuasaan politik Nabi itu ada di masjid. Bukan di parlemen atau panggung-panggung politik yang lazim kita kenali sampai hari ini. Modal inilah yang menjadi Kyai Jazir membangkitkan spirit dakwah masjid Jogokariyan Yogyakarta.

Membakitkan Batang Tarandam
Maninjau banyak melahirkan orang-orang hebat; Tuanku Kisai, Syeikh Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Buya AR. Sutan Mansur, Mohammad Said (Saudagar dan Aktivis Sarekat Islam), Nt. Sutan Isksndar (Sastrawan), Mohammad Natsir, KH. Firdaus AN, Mohd. Dimyati (Sastrawan), Buya Hamka, HR. Rasuna Said dan para tokoh lainnya.

Kita do’akan semoga Allah SWT berikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran kepada saudara kita di Maninjau Sumbar yang mengalami ujian.

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].

#masyumi #literasi #khisaanshari #mujahiddakwah #ulamaindonesia