๐๐ฎ๐ฅ๐ข, ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ง ๐๐๐ญ๐ข๐ค๐ ๐๐๐ญ๐ฌ๐ข๐ซ ๐๐๐ง๐ฒ๐๐ญ๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐ง๐๐จ๐ง๐๐ฌ๐ข๐
๐๐ฅ๐๐ก: ๐๐ ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ค๐ฌ๐ฎ๐ฆ
> “Ada dua tokoh yang sering disebut ketika kita bicara tentang persatuan bangsa: Soekarno dan Natsir. Tapi hanya satu yang membuat negara ini kembali jadi satu: Natsir. Dan itu terjadi di bulan Juli. Bukan karena pidato. Tapi karena mosi. Mosi yang integral. Yang mengembalikan ruh Republik dari serpihan-serpihan RIS. Mosi yang lahir dari pikiran jernih dan niat tulus, bukan ambisi kekuasaan. Maka jika ada yang bertanya, mengapa Juli layak disebut bulan Natsir, jawabannya bukan karena beliau lahir di bulan itu. Tapi karena pada Juli, Republik ini lahir kembali.”
Saya tidak sedang membandingkan siapa lebih besar. Tapi saya hanya ingin mengingatkan apa yang sering terlupakan. Dalam buku sejarah, nama Mohammad Natsir mungkin tidak sedahsyat Soekarno atau Hatta. Tapi dalam lembar penyatuan bangsaโia tak tergantikan.
Juli 1950 adalah bulan ketika Indonesia kembali menjadi satu kesatuan. Republik Indonesia Serikat (RIS) kala itu seperti puzzle yang tercerai-berai. Bentukan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), RIS lebih mirip federasi buatan Belanda: 16 negara bagian yang masing-masing bisa ditarik ke arah yang berbeda.
Lalu datanglah satu orang dari Sumatera Barat, yang tidak berteriak tapi menulis. Yang tidak mengangkat senjata tapi mengajukan satu naskah: Mosi Integral. Sederhana bahasanya, tapi revolusioner dampaknya.
Tanggal 3 April 1950, Natsir menyampaikan mosi itu. Tapi realisasi politik dan penetapan konstitusionalnya baru diresmikan dan dikuatkan pada 14 Juli 1950. Saat itulah Indonesia secara sah kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan tak lama setelah itu, Mohammad Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri pertama NKRI.
Bukan jabatan yang ia kejar, bahkan bukan pula posisi yang ia lobi. Itu semacam keharusan sejarah. Karena dialah yang memulai, dan bangsa ini hanya memberi amanah pada yang mempersatukan, bukan memecah.
Ironisnya, sejarah kadang kejam. Ia menaruh nama Natsir dalam catatan kaki, bukan judul utama. Ia lebih sering dikenang oleh mereka yang memang mencintai kejujuran dan kesederhanaan. Dan bulan Juli jarang disebut sebagai bulan penting dalam republik ini.
Padahal jika kita jujur, bulan Juli adalah bulan ketika Indonesia benar-benar lahir kembali. Tanpa RIS, tanpa bayang-bayang kolonial, tanpa negara bagian palsu.
Jika ada orang bertanya pada saya, kenapa Juli layak disebut sebagai Bulan Pak Natsir, saya hanya akan menjawab:
Karena di bulan itulah, satu mosiโbukan amarah, bukan ambisiโtelah menyatukan tanah air ini.
Dan itu datang dari seseorang yang tidak pernah menganggap dirinya besar.
Mohammad Natsir.
Yang mempersatukan negeri ini, tanpa meminta nama.

