๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง B๐š๐ญ๐ข๐ง D๐š๐ซ๐ข S๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  M๐ฎ๐ฌ๐š๐Ÿ๐ข๐ซ

May 22, 2025

๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง ๐›๐š๐ญ๐ข๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ฎ๐ฌ๐š๐Ÿ๐ข๐ซ haji ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐๐ข๐ฃ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ญ ๐ฉ๐š๐ง๐ ๐ ๐ข๐ฅ๐š๐ง ๐ฌ๐ฎ๐œ๐ข

๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐Œ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐› ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐‚๐š๐ซ๐š๐ง๐ฒ๐š: ๐‡๐š๐ฃ๐ข, ๐‹๐ฎ๐ค๐š, ๐๐š๐ง ๐‹๐ฎ๐ค๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐ฌ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐ก๐ค๐š๐ง

๐Ž๐ฅ๐ž๐ก: ๐€๐ ๐ฎ๐ฌ ๐Œ ๐Œ๐š๐ค๐ฌ๐ฎ๐ฆ

๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง ๐‘๐ž๐ฉ๐จ๐ซ๐ญ๐š๐ฌ๐ž ๐‡๐š๐ฃ๐ข ๐Ÿ โ€“ ๐–๐จ๐ง๐  ๐‰๐จ๐ฐ๐จ ๐๐๐ฎ๐ฐ๐ž ๐‰๐š๐ง๐ฃ๐ข

Saya ini wong Jowo. Asli. Bapak, ibu, para leluhur saya hidup dan wafat di tanah ini. Dalam buku Silsilah Keluarga Kalioso, garis kami ditarik hingga Kyai Abdul Jalal Kalioso, dan dari sana disambungkan ke Raden Ainul Yaqin Sunan Giri, ke Maulana Ishaq, dan ke Syekh Jumadil Kubro. Bahkan sampai ke Rasulullah SAW. Ada darah Arab, kata mereka. Tapi bagi saya, itu terlalu jauh. Terlalu tinggi untuk di sebut apalagi dibanggakan.

Yang saya rasakan dekat justru janji alastu birobbikum qoolu balaa syahidnaa โ€”

“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (termasuk Ruhku) menjawab: Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-Aโ€™raf: 172).

Itulah janji suci yang mengikat saya, bukan nasab.

Saya merasa sebagai wong Jowo kampung yang sedang memenuhi panggilan Nabi Ibrahim ribuan tahun lalu. Bukan karena darah, tapi karena iman. Bukan karena keturunan, tapi karena ikatan batin dan iman yang tak putus oleh waktu.

Labbaikallahumma labbaik.

Saya sudah mengucapkannya, jauh sebelum pesawat saya mengudara ke Tanah Haram. Saya mendaftar haji tahun 2011, usia saya masih 40-an. Tubuh masih kuat, kaki masih enteng diajak thawaf, napas masih panjang. Waktu itu saya diberi tahu masa tunggunya 11 tahun. Saya catat. Saya tunggu. Tapi Allah punya hitungan sendiriโ€”menjadi 14 tahun, karena wabah bernama Covid.

Panggilan yang dulu bersifat spiritual, mendadak menjadi sangat administratif.

Seperti Puntadewa yang menunggu dan menyimpan pusaka Jamus Kalimasodo tapi tak bisa membacanyaโ€”sampai secara administratif datang Sunan Kalijaga yang akan menuntunnya dan mengajarkan membacanya hingga jaman berganti ganti Ngamarto melewati jaman Arok Dedes, Singasari, Majapahit hingga Demak Bintoro.

Saya mulai berpikir dalam diam: apakah nanti ketika giliran itu datang, saya masih sehat? Masih kuat? Apakah saya bisa menjawab panggilan ribuan tahun itu dengan kaki yang dulu saya banggakan? Pertanyaan itu tak pernah saya ucapkan. Tapi selalu berbisik di kepala.

๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง ๐Ÿ โ€“ ๐’๐จ๐ฐ๐š๐ง ๐ค๐ž ๐Š๐š๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ง๐  ๐๐š๐›๐ข

Satu hal yang saya syukuri: sebelum haji, saya sempatkan umrah di tahun 2012. Bagi saya itu bukan formalitas ibadah kecil sebelum yang besar. Itu sowan. Saya ingin hadir di Madinah lebih dulu.

Saya ingin datang ke rumah Rasulullah SAW, untuk sekadar bilang:

“Ya Rasul, aku datang. Maafkan aku yang datang terlambat. Aku dari jauh. Dari kampung Jawa ribuan km dari sini menyeberang lautan menumpang awan. Dari tanah yang saat engkau menyampaikan risalah, bahkan belum mengenal namamu.”

Di Raudhah, di pinggir makam beliau, saya ulangi kalimat yang dulu Buya Hamka ucapkan:

“Ya Rasulullah, aku umatmu dari jauh. Mungkin tanahku belum tersentuh ketika engkau mengajarkan kalimat tauhid. Tapi hari ini, aku telah sampai. Aku beriman kepadamu sebagai utusan dan menyembah hanya kepada Allah yang mengutusmu. Catatlah aku sebagai umatmu. Mohonkanlah syafaat untukku. Ijinkan aku, Ya Rasul, masuk surga tanpa hisab, tanpa mampir ke neraka.”

Saya menangis seperti anak kecil, seperti isi di dalam dada tumpah ruah. Tak bisa ditahan. Bukan karena sedih. Tapi karena rasa diterima karena saya merasa ada di samping Rasulullah Saw.

๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง ๐Ÿ‘ โ€“ ๐‹๐ฎ๐ค๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ƒ๐š๐ญ๐š๐ง๐  ๐๐š๐ซ๐ข ๐๐ซ๐š๐ฌ๐š๐ง๐ ๐ค๐š

Saya pernah berprasangka: โ€œjangan-jangan nanti saat tiba waktu haji, saya tidak lagi kuat seperti 14 tahun lalu.โ€

Saya tidak pernah mengucapkannya, hanya dslam batin. Tapi Allah Maha Tahu isi dada.

Dan Allah, seperti biasa, menjawab dengan cara-Nya.

Sebulan sebelum berangkat, luka kecil di jempol kaki kiri saya membesar. Awalnya hanya saya tutup plester handypalstpun aman. Tapi lama-lama tak kunjung sembuh.

Setelah Lebaran, luka itu malah makin parah. Saya ke rumah sakit. Mereka bilang harus dibedah kecil agar cepat kering. Tapi itu artinya: saya tidak boleh banyak bergerak. Padahal haji sebentar lagi.

Saya diam. Lalu datang ujian tambahan.

Harus suntik vaksin meningitis. Saya sudah berusaha agar tidak disuntik. Tapi secara administratif, tak ada celah. Saya pasrah.

Hasilnya: tubuh saya demam hebat. Seperti serangan Covid. Lidah pahit. Nafsu makan hilang. Dipaksa makan lima sendok, malah muntah.

Di titik itu saya sadar: Ya Allah, Engkau sesuai prasangka hamba-Mu.

Saya malu. Saya bertaubat. Saya ikhlas. Saya ucapkan: Labbaikallahumma labbaik.

Saya akan tetap datang, ya Rabb. Dengan tongkat, dengan kursi roda, dengan tertatih, saya akan datang.

Seorang senior menasihati saya,

“Niat yang benar, hati yang ikhlas, akan membuat semua doa kontan di Tanah Haram.”

Saya menangis. Bukan karena sakit. Tapi karena disadarkan.

๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง ๐Ÿ’ โ€“ ๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐Š๐š๐ค๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง, ๐“๐š๐ฉ๐ข ๐‡๐š๐ญ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐ฉ๐š๐ง๐ ๐ ๐ข๐ฅ

Sejak itu, saya tak lagi sibuk memikirkan dan menyembuhkan kaki, luka kaki saya di ambil alih oleh istri saya yang seorang dokter, tiap hari di rawat. Saya sibuk menyembuhkan hati.

Dan saat hati saya lurus, kaki saya mengikuti.

Saya yakin bisa thawaf, bisa ke Arafah. Saya bisa wukuf, mabit, dan jumrah. Dengan langkah pelan. Dengan hati mantap. Semua yang dulu saya takuti, justru menjadi anugerah yang saya syukuri.

Saya belajar satu hal:

Yang utama bukan kuatnya kaki kita melangkah. Tapi teguhnya hati kita menjawab panggilan-Nya.

๐‚๐š๐ญ๐š๐ญ๐š๐ง ๐๐ž๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ โ€“ ๐‹๐š๐ฉ๐จ๐ซ๐š๐ง ๐‰๐ข๐ฐ๐š ๐ˆ๐ง๐ข ๐Œ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง

Ini bukan penutup. Ini awal.

Saya akan terus menulis, karena saya belum selesai belajar menjadi hamba.

Seperti kata Cak Nun:

“Orang berangkat haji bukan karena ia hebat, tapi karena ia diajak.”

Seperti kata Ahmad Wahib:

“Iman bukan sekadar keyakinan, tapi juga keraguan yang dijawab, lalu diterima kembali secara sadar.”

Dan seperti Dahlan Iskan:

Saya menulis ini bukan karena saya sudah sempurna. Tapi karena saya ingin jujur.

Saya berangkat dengan tongkat dan kursi roda. Tapi saya ingin pulang dengan hati yang tegak.

Karena Allah, memang selalu menjawab. Tapi jarang dengan cara yang kita rancang dan kita pikirkan, saya pasrah mengikuti cara Allah, saya noto ati pasrah kepada Allah azza wa jalla